Selasa, 07 Januari 2014

Ciputra Way: Entrepreneur yang Bangun Bangsa

Saya suka mengamati berbagai pertandingan olahraga dalam event Olimpiade London 2012 yang baru saja berlalu. Mencermati perolehan medali setiap negara partisipan cukup mengasyikkan. Dan satu yang kemudian terlintas dalam benak saya saat itu: “Apakah ada hubungan antara cabang-cabang olahraga yang menjadi keunggulan setiap bangsa itu dengan mindset mereka?”

Anda bisa amati sendiri bagaimana atlet-atlet negeri Afrika yang sangat piawai dalam cabang atletik terutama lari jarak pendek dan jarak jauh. Saya berpikir itu karena mereka bermental pemburu. Lingkungan yang penuh dengan gurun dan hutan membuat mereka harus pandai-pandai berlari secepat mungkin untuk mengejar hewan buruan, atau jika bahaya bintaang buas mengintai, mereka harus berlari menyelamatkan diri. Keahlian berlari adalah ketrampilan fisik yang amat vital bagi orang Afrika.

Keadaan yang sama juga saya alami saat remaja. Saya terbiasa berburu di hutan dengan anjing-anjing pemburu yang terlatih untuk mendapatkan daging hewan buruan untuk bisa dijadikan bahan makanan untuk bertahan hidup. Inilah kemandirian yang saya pelajari sejak usia muda.

Sementara itu, China mendominasi di cabang-cabang olahraga seperti loncat indah, badminton. Rata-rata cabang olahraga yang mereka menangi ialah yang membutuhkan“sense of arts and skills yang tinggi. Ini juga yang saya temukan dalam tulisan dan kaligrafi Cina, yang sarat dengan pesan dan rumit.

Apa yang bangsa Indonesia menangi di olimpiade lalu? Angkat besi. Atlet kita meraih medali perak di cabang olahraga angkat besi.

Kemudian saya mencoba menarik kesimpulan dengan menghubungkan semua fakta-fakta tersebut dengan suatu pernyataan menarik yang saya masih ingat dari Bung Karno, proklamator kita, Indonesiathe land of kuli. Kuli adalah pekerjaan yang identik dengan angkat mengangkat barang. Dan apakah ini bisa kita hubungkan dengan kemenangan kita dalam angkat besi?

Pernyataan Presiden pertama kita sangat menggelitik saya karena ini menjadi sebuah pelatuk yang seolah memicu pikiran saya untuk menyimpulkan bahwa kita perlu melakukan upaya untuk memperbaiki kondisi mental dan mindset bangsa Indonesia yang masih kurang pro-entrepreneurship ini.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menanggapi otokritik dari bapak pendiri bangsa ini? Mari kita bekerja bahu-membahu memajukan bangsa ini dengan entrepreneurship, agar bangsa ini tak melulu harus menjadi kuli di negerinya sendiri.

Previous
Next Post »